Breaking News
Home / Internet Marketing / Strategi Follow Up
belajar cara-follow-up
belajar cara-follow-up

Strategi Follow Up

Strategi Follow Up Yang Baik Agar Terjadi Penjualan

Follow Up – Masalah ini akan banyak sekali dialami oleh seorang saat menjual sesuatu.

Masalahnya adalah… Sudah totalan, janji transaksi, tapi beberapa waktu gak ada kabar. Pernah dapat calon pembeli seperti ini? 🙂

Bagaimana menyikapi hal tersebut? Yuk kita bahas.

Pertama dan utama, tidak perlu di dramatisir, hehe. Dapat prospek seperti itu, mungkin akan membuat seseorang jadi kesal, bingung, panik dan sejenisnya. Tapi walaupun begitu, itu bukan alasan untuk langsung curhat di sosial media.

Hal ini akan terjadi berkali-kali. Masa’ setiap terjadi harus curhat terus? Itu sih menghabiskan energi, hehe Belum lagi kalau dilihat orang lain? Mungkin maksudnya posting seperti itu untuk mengingatkan. Tapi yang bisa lihat sosial media kita bukan hanya orang yang janji transfer saja, benar kan? Yang tidak ada hubungannya juga bisa melihat.

Dan biasanya, curhatan begitu akan menurunkan kredibilitas penjualnya. Yang ujung-ujungnya, membuat orang lain menurunkan kepercayannya. Rugi deh.

Lagipula, yang janji transfer belum tentu lihat dan gak terlalu peduli. Nah lho. . .Yang terburuk. Biasanya kekesalan yang diposting, diikuti dengan umpatan. Dapat pembeli belum pasti, tambah dosa sudah jelas. Terkadang, saat jualan kita butuh kedewasaan.

Selesaikan secara personal.

Kalau hal ini sudah dipahami, Alhamdulillah. Maka kita masuk ke teknisnya.

belajar cara-follow-up

Saat ketemu prospek seperti itu, maka solusinya adalah “FOLLOW UP” Menurut Hubspot. 80% transaksi online terjadi karena pembelinya di follow up. Sayangnya, banyak penjual yang tidak melakukan hal ini.

Artinya apa?

Artinya follow up adalah salah satu bagian dalam prosedur jualan kalau ingin hasil yang maksimal. Kalau ingin hasil maksimal sih, kalau gak mau juga gak papa. . Hehe

Pada dasarnya, mereka yang menghubungi Anda atau merespon promo Anda itu memiliki ketertarikan dengan penawaran yang Anda berikan.

Mereka belum transfer, bisa jadi karena mereka sibuk, lupa, ada keperluan, masih menimbang-nimbang, atau alasan lainnya.

Daripada menduga-duga, lebih baik follow up saja. Benar kan? 🙂 Nah, siapa yang sebaiknya di follow up? Yang sebaiknya di follow up adalah mereka yang sudah totalan harga, dan memang janji transfer.

Kalau hanya tanya-tanya tapi belum totalan, bisa jadi mereka hanya ingin tahu dulu, belum tentu mau beli. Kalau sudah janji transfer, artinya sudah pernah punya niat untuk beli.

Cara follow upnya bagaimana?

Pertama, ketika prospek mengatakan akan transfer, kita jangan selesai dengan kalimat “Oke ditunggu ya.” Kalimat itu bagus, hanya saja ada yang lebih bagus.

Kalimatnya

“Oke ditunggu ya mba. Kalau sudah, silahkan berikan bukti transferannya 2×24 jam untuk Saya proses pengirimannya. Terimakasih sudah berbelanja kepada kami 🙂 ”

Kenapa perlu ada waktunya?

Untuk memberikan tanda kepada prospek, bahwa dalam waktu yang ditentukan kita akan menghubungi dia lagi. Kata “Saya” dan “Kami” dalam kalimat, digunakan untuk memberikan rasa nyaman kepada prospek.

Pakai emot untuk memberikan kesan ramah. Selain kalimat diatas, Anda juga bisa pakai kalimat

“Baik pak akan kami tunggu. Silahkan mengabari kalau sudah di transfer. Sekedar menginfokan, kalau promo spesial ini hanya sampai besok. Jadi jangan sampai kelewatan ya. Terimakasih 🙂 ”

Ini jika yang Anda tawarkan adalah promo berbatas waktu atau terbatas jumlah. Jika di perhatikan, kalimat-kalimat diatas memberikan penekanan waktu. Kenapa begini?

Agar saat follow up nanti enak. .

Kebanyakan penjual bingung memulai percakapan saat follow up. Dengan memberikan penekanan di waktu, jadi lebih mudah masuknya.

Kapan waktu terbaik untuk follow up?

  • Jika tidak ada batasan promo.
  • Maka maksimal 2×24 jam dari chat terakhir.
  • Lebih dari itu kurang bagus hasilnya.
  • Jika ada batasan promo.
  • Follow up bagusnya sehari sebelum promo ditutup.

Karena jika promo masih panjang, maka prospek akan terus menunda. Kalau sudah jelas batasannya, maka mereka akan lebih tergerak. Bagi sebagian orang, menunda itu memang enak, hehe

Nah, sekarang kita mas

uk ke pola follow upnya. .Ada 2 pola

1.Pola pertama

[Rapport] + [Bridging] + [Double Binding]

  • Rapport artinya pendekatan, Bisa berupa salam Atau menanyakan kabar
  • Bridging menyisipkan informasi agar lawan bicara paham topik pembicaraan. Bisa jadi prospek lupa, kalau langsung ke topik, nanti mereka bingung, hehe
  • Double binding adalah salah satu teknik closing. Polanya memberikan pertanyaan pilihan. Dimana apapun jawaban dari pertanyaan itu mengarahkan ke closing.

Contoh kalimatnya

“Selamat pagi Mba Eka. Kemarin sempat order hijab model A ya? Saya ingin bertanya mau ikut pengiriman hari ini atau ikut pengiriman besok? Pengiriman hari ini batas waktu transfernya sampai jam 2 siang ya. Terimakasih jawabannya 🙂 ”

Mau ikut pengiriman besok atau hari ini, yang penting transfer, hehe.

2.Pola kedua

[Rapport] + [Recall] + [Urgensi]

  • Recall mencoba mengingatkan prospek alasan belinya. Dengan mengingatkan ini, maka prospek akan terstimulasi secara emosional.
  • Urgensi adalah memberikan batasan, mencoba membuat prospek tidak menunda-nunda.

Contoh kalimat?

“Dear Bapak Iwan, semoga sehat selalu.

Beberapa waktu yang lalu bapak berencana mengambil promo spesial bulan ini. Mungkin karena tertarik dengan potongan harga dan Bonus spesialnya. Tentang promo tersebut, lewat pesan ini kami ingin beritahukan bahwa besok promonya akan berakhir. Karena itu, silahkan selesaikan transaksi Anda paling lambat besok siang untuk bisa dapat promonya.

Terimakasih 🙂 ”

Begitu ya polanya. .

Apakah dengan begini pasti yang tertarik akan jadi pembeli?? Belum tentu, ini hanya pendekatan. Yang perlu Saya garis bawahi, tidak ada teknik jualan yang memastikan orang lain 100% akan membeli produk kita.

Kita hanya bisa melakukan sunnahtullah.

Dan sudah jadi hukum, Bahwa dari seluruh orang yang tertarik, selalu saja ada yang tidak jadi pembeli. Follow up akan menyempurnakan ikhtiar, Tapi jangan berharap sepenuhnya dengan follow up. .

Semoga materi barusan bermanfaat untuk Anda.

About Suparno

Nama saya Suparno, seorang mantan Karyawan. Saya mantan Karyawan yang saat ini berprofesi sebagai seorang full time blogger dan Internet marketer. Saya tinggal di Solo, Jawa Tengah. Selama menjalani bisnis online, saya telah mengalami beragam kegagalan dan trial dan error. Di blog inilah saya berbagi pengalaman tersebut yang semoga bermanfaat untuk sobat semua.

Check Also

5 ALASAN KENAPA MEMILIH FACEBOOK

5 Alasan Kenapa Saya Memilih Facebook

5 Alasan Kenapa Saya Memilih Facebook Sebagai Media Online Saya Bisnis Online memang bisa di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *